Tetaplah Tegak Berdiri - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Senin, 27 April 2020

Tetaplah Tegak Berdiri


Rian Saputra (Ketua Bidang Hikmah PIKOM IMM FEB 2019-2020)

Malam ini, bulan di selimuti kabut hitam. Gemintang malu menatap langit. Hingga matahari terbit kembali, satu dua tiga bintang terang dan redup. Dan bumi masih merenung kapan semua akan lekas pulih, seperti dahulu atau lebih dari itu. Malam ini aku merasa begitu melankolis, lampu jalan berbicara bahasa rindu, angin sepoi menjadi simponi , menusuk hingga sumsum.
Dear... Kalian yang selalu mengirim pesan lewat grup WhataApp. Bagai narasi, begitu banyak hingga tak mampu terekam dalam baris lagu tanpa irama. Ku susun tangga nada, kupetik senar demi semi senar gitar tua yang terpajang di dinding kamar, hingga... Jatiku terlelap dalam simponi narasi dan petikan gitar tua yang harmonis.
Dear kalian yang selalu mengirim pesan lewat grup WhatsApp. Saat ini aku rindu masa dimana kita tertawa, berdebat, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah bersama. Saat ini begitu banyak keganjalan dan penyimpangan, mulai dari pemerintah yang melanjutkan pembahasan RUU yang kontoversi di tengah Covid-19, penyaluran bantuan rakyat terdampak Covid-19 yang tidak tepat sasaran, banyaknya rakyat kecil yang kelaparan di tengah Social Dystancing, banyaknya karyawan yang di PHK karena perusahaan yang mengalami banyak kerugian, banyaknya masyarakat yang melanggar aturan Social Dystancing, kacaunya aturan pemerintah dalam pemberlakuan social Dystancing, hingga banyaknya Masjid di kosongkan dengan alasan pemutusan rantai Covid-19, saya rasa pemerintah dari awal hingga saat ini tidak betul-betul siap dalam penanganan Covid-19. Siaran televisi dan berbagai media yang menyiarkan berbagai konten hiburan hingga informasi pemerintahan yang menawarkan kebahagiaan namun tak seindah kenyataan, masih banyak rakyat murba yang mati kelaparan.
Dear... Saudaraku. Kalian selalu disini, bersamaku, dalam bentuk gambar yang berbicara lewat makna dan pesan yang kubuat sendiri. Saya selalu berharap, semua lekas pulih agar apa yang kita mimpikan bersama segera kita wujudkan. Dan semoga kalian baik-baik disana. Entah mengapa, aku merasa begitu melankoli malam ini. Lampu-lampu telarang terlihat hadir dalam warna yang baru. Seolah menunjukan parodi kemanusiaan. Semua terlihat indah nan ramai tapi kosong. Entah aku atau mereka, tapi semua berbicara dengan bahasa asing yang tak mampu saya terjemahkan satu per satu. Namun satu yang kupahami, mereka memberiku rasa cinta yang besar pada kemanusiaan.
Diantara baris waktu, hingga sampai pada detik ini, imajiku membawaku pada saat yang biasa. Akankah kita masih bisa makan bersama dan melakukan semuanya bersama. Akankah kau masih enggan membantuku membenarkan lipatan  lengan bajuku. Rintik hujan pun turun perlahan di lembah kasih. Dimana kita berdiri tegak menatap umat yang kian suram. Menjejaki setapak dakwah yang menjanjikan jannah. Meresapi indahnya "Billahi fii sabililhaq fastabiqul khairat".
Dear Saudaraku. Akankah "Wa zakkir" masih mendekap kita?? "Amar ma'ruf nahi munkar". Semakin dekat dan lebih dekat. Akankah kita masih saling berkata "Aku mendengar derap jantungmu". Kita berbeda dalam banyak hal, kecuali dalam warna MERAH MARON.
Hari semakin malam, semua makin nampak kabur. Ada yang menghabiskan waktunya untuk liburan, ada pula yang bermaksiat. Tapi, aku ingin menghabiskan waktuku bersama kalian di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Berbicara soal umat dan bangsa juga kerajaan kita, yang yang terpenting bagaimana generasi kita, kader-kader kita. Bunga-Bunga yang kita rawat dengan Iman, Ilmu dan Cinta dan Rumah Merah kita.
Banyak yang mati dalam sakitnya, banyak bayi yang mati kelaparan. Tapi, aku ingin mati bersamamu dijalannya saudaraku. Setelah melewati berbagai kehidupan yang bahkan tak seorangpun tau. Marilah Saudaraku, kalian yang selalu mesra dan simpatik padaku. Tegaklah dalam badai dan obak samudra. Soe Hok Gie pernah berkata "kita tak pernah menanam apa-apa dan takkan kehilangan apapun" karena kita 1 dalam ikatan.
Dear saudaraku dan semua yang membaca tulisan ini. Ini bukanlah puisi atau kumpulan karya sastra, sebab diriku bukanlah ahli dalam segala bentuk seni. Bukan juga karya ilmiah karena bagiku tulisan ini tak memuat referensi. Tapi, ini adalah deret kata yang lahir dari rinduku yang tak mampu terucap dari bibirku, untuk kita yang kian berjarak.
Saudaraku... Kita bermula dari ketiadaan dan kembali pada ketiadaan, maka bahagialah dalam ketiadaanmu.
Dear Saudara tak Sedarah.
Oleh : Rian Saputra
          (Ketua Bidang Hikmah PIKOM IMM FEB (2019-2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad