Lelucon Yang Tak Punya Nilai Humor - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Selasa, 21 April 2020

Lelucon Yang Tak Punya Nilai Humor

Darmawan (Ketua Bidang Organisasi PIKOM IMM FEB 2019-2020)
            Tertawa merupakan suatu bentuk ekspresi emosional kebahagian seseorang yang melihat suatu peristiwa yang lucu. Tentunya seseorang yang tertawa tanpa suatu peristiwa yang lucu akan dianggap oleh kebanyakan orang memiliki gangguan kejiwaan!!. Ada banyak manusia yang memiliki watak yang suka bercanda dan banyak tertawa ada juga orang yang sangat serius dan jarang bercanda. Tentunya sisi humor kita berbeda-beda tidak semua hal lucu yang bisa membuat kita tertawa belum tentu membuat orang lain juga tertawa.
            Dalam pandangan Islam Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan "janganlah kamu banyak tertawa, karna banyak tertawa itu dapat mematikan Hati” (H.R. Tirmidzi. Hadits tersebut menegaskan kepada ummat Islam agar tidak banyak tertawa apalagi jika maksud dari tertawaannya mengandung unsur celaan terhadap seseorang itu sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Tapi, bukan berarti Rasulullah SAW tidak memiliki sifat humoris .Dalam sebuah hadist di ceritakan bahwa pernah Rasulullah mencandai seorang nenek-nenek. Ketika Nenek itu bertanya tentang dirinya apakah dia akan masuk Surga, Rasululllah menjawab bahwa nenek tidak masuk Surga, sang nenek pun menangis mendengar ucapan Rasulullah. Rasulullah lantas mengutus seseorang menemui si Nenek untuk diberitahukan bahwa ia akan masuk Surga, hanya saja dalam bentuk seorang gadis. “Di Surga tidak ada nenek-nenek” (H.R. Thabrani dan Baihaqi). Tentunya Rasulullah bercanda dengan mengatakan kebenarannya tidak dengan mengatakan kebohongan. ”Celakalah bagi orang yang berkata dangan berdusta, untuk menjadikan orang  lain tertawa. Celaka dia, celaka dia,” (H.R.  Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzidan Hakim).
Menurut Listya Istiningtias dalam jurnal Humor Dalam Kajian Psikologi Islam yang ditulisnya mengungkapkan bahwa kebanyakan orang menganggap humor hanyalah semata-mata kegembiraan yang keberadaannya sering dibatasi pada hiburan belaka seperti tanyangan yang disiarkan di televisi, penyajian iklan, film dan sebagainya. Tapi ternyata humor dan tertawa punya sifat  yang  lebih universal yang artinya semua orang dari semua budaya di semua belahan bumi mampu mengalaminya. Di kota besar bahkan yang hidup di perkampungan pun mampu mengalaminya. Tertawa tidak bisa dipaksakan, seseorang hanya dapat tertawa jika ia sendiri menginginkannya.
Humor berasal dari kata Umor yaitu You-Moors yang berarti Cairan-Mengalir, Humor memiliki sifat dari sesuatu atau sifat suatu situasi yang kompleks yang membuat kita tertawa.
            Rod A. Martin seorang professor psikologi di University of Western Ontario mengatakan bahwa humor adalah suatu penjelasan terhadap seperangkat fenomena yang terkait dengan mencipta, mempersepsi, dan menikmati sesuatu yang Menggelikan (lucu), sesuatu yang komikal, suatu ide atau kejadian yang inkongruen (tidak sebangun dengan kejadian yang lazim)
            Abdurrahman Wahid mengatakan “Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat” atau definisi yang lebih bijak oleh Simon Wiesental aktivis Yahudi dari Austria yang lebih dikenal sebagai pemburu Nazi mengatakan bahwa humor adalah senjata bagi orang tak bersenjata, dengan humor membantu orang-orang tertindas untuk tersenyum pada situasi mereka yang terluka”.
            Beberapa tahun terakhir ini banyak kita temui siaran TV nasional yang mempertontonkan parodinya di hadapan banyak orang. Cara menghibur mereka kebanyakan menjatuhkan kualitas kemanusiaan seseorang. Menghina bahkan mencaci teman parodinya yang lain. Yang akhirnya tontonan ini menjadi patokan penontonnya untuk mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari..!! Maka tak jarang kita jumpai Bullying  di sekolah yang seharusnya menjadi wadah pembentukan karakter ke 2 setelah rumahnya.
            Bahkan Pemerintah sebagai representative Negara pun berusaha memberikan kita lelucon-lelucon yang dibaluti dengan sebutan kebijakan, akhir-akhir ini lelucon yang dibuatnya tidak memilik inilai humor samasekali. Tidak menghadirkan senyum, tawa atau kebahagiaan untuk semua warga Negara yang sedang menonton mereka.
            Lihat saja pertunjukan parodi yang di tampilkan oleh DPR RI di tengah mencekamnya Virus COVID-19. Pembahasan Onimbus Law Rancangan undang-undang (RUU) Cipta Kerja tetap dilaksanakan di gedung DPR  senayan Jakarta.  Lelucon macam apa itu. Penolakan yang jelas-jelas dilakukan oleh ribuan Buruh, ratusan Aliansi Mahasiswa, bahkan Ormas-ormas besar di Indonesia Beberapa bulan terkakhir sebelum kita dilanda Musibah Wabah Virus corona..!! Ini Membuktikan bahwa DPR tidak punya selera humor yang  baik. Disaat pemerintah pusat sampai pemerintah di tingkatan RT/RW kebingungan menghadapi wabah ini DPR malah sibuk membahas RUU Onimbus Law.!! Lelucon ini justru mempersepsi kita bahwa DPR melakukan pertunjukan yang tidak sedang di tujukan kekita..!! lantas siapa..? orang dibalik layar pertunjukan..!! Ataukah orang yang menuliskan alur cerita parodinya? Itu pertanyaan untuk kita semua yang hanya bisa di jawab oleh pemerannya sendiri.
            Atau lelucon yang dibuat oleh Kementrian Hukum dan HAM beberapa hari yang  lalu dengan melepaskan Narapidana dari lembaga pemasyarakatan dengan alasan pencegahan penyebaran COVID-19. Lelucon macam apa itu.? Disaat Negara lain berupaya mencegah warga negaranya keluyuran di luar rumah dengan memberikan denda bahkan hukuman penjara bagi para pelanggarnya. Tapi, Indonesia justru membebaskan Narapidana yang notabenenya sebagai pelanggar hukum. Bahkan salah satu media nasional memberitakan bahwa salah satu tahanan yang baru di bebaskan justru kembali berbuat criminal setelah beberapa hari angkat kaki dari sel tahanannya. Lelucon yang justru menggelitik kita untuk berteriak guyonan anda tidak lucu pak , selera humor bapak kelewatan..!!
            Tentunya nilai humor yang akhir-akhir ini Negara kita tunjukkan sangat rendah dari begitu banyak lelucon, pertunjukan parodi yang diperlihatkan kewarganegaranya yang seharusnya menghadirkan senyum, tawa, atau kebahagiaan. Tetapi justru lebih banyak mengundang teriak-teriakan dari para penontonnya sebagai bentuk bahwa lelucon mereka ditolak tidak memiliki nilai humor apalagi sisi Humanis terhadap para penontonnya.
            Lantas dimana kita bisa mendapatkan lelucon yang membuat pikiran kita melupakan kesulitan hidup atau humor yang mampu membuat kita lebih sehat sesuai kata GUSDUR. Apakah bahagia itu kita yang ciptakan..!?
            Wallahua’lambis-sawab
            “Dan Allah Lebih Tahu\ Maha Mengetahui”

 Oleh : Darmawan
           (KABID Organisasi PIKOM IMM FEB 2019-2020)

1 komentar:

Post Top Ad