HAKIKAT BERGANTUNG HATI KEPADA ALLAH SWT - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Rabu, 30 Oktober 2019

HAKIKAT BERGANTUNG HATI KEPADA ALLAH SWT




Kakanda IMMawan Irmansyah
Ketua Bidang Media dan Komunikasi 2018-2019

Allah SWT berfirman:

قُلْ لَّوْ كَا نَ الْبَحْرُ مِدَا دًا لِّـكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَـنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَـنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

"Katakanlah (Muhammad), Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."(QS. Al-Kahf 18: Ayat 109)
Allah berfirman, katakanlah hai Muhammad, seandainya air laut itu dijadikan tinta pena untuk digunakan menulis kalimat-kalimat Allah swt., hukum-hukum-Nya, ayat-ayat yang menunjukkan kekuasaan-Nya, niscaya akan habis air laut itu sebelum penulisan semuanya itu selesai. Meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu Pula. Yakni, seperti laut yang lain, lalu yang lain lagi, dan seterusnya dan kemudian dipergunakan untuk menulis semuanya itu, niscaya kalimat-kalimat Allah Ta’ala itu tidak akan selesai (habis) ditulis. Sebagaimana yang Dia firmankan berikut ini:

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Luqman: 27)
Ayat di atas menyatakan demikian itu tiada batas nikmat Tuhan dapat kita menghitungnya. Semakin kita mempelajari ilmu pengetahuan, maka semakin luas pengetahuan kita. Namun semakin pula kita tahu begitu banyak yang tidak kita ketahui. 
Dari ayat di atas kita perlu bercermin, ilmu pengetahuan yang kita miliki sekarang hanyalah sedikit sekali dari yang telah digariskan Allah SWT. Nikmat yang dilimpahkannya tidak dapat kita ukur dengan pengetahuan kita. Sekali-kali kita patut menginstrospeksi siapa dan bagaimana kita. Cukupkah yang kita miliki menjadi tujuan hidup kita? Kemana kita akan kembali setelah kehidupan ini berakhir? 
Kajian dengan Tema Hakikat Bergantung Hati kepada Allah SWT tersebut diawali dengan pembahasan ayat yang menjurus kepada berbagai banyaknya nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita yang tidak akan bisa kita ukur banyaknya,maka sebagai seorang muslim hendaknya selalu menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya di hati kita,selalu menggantungkan segala sesuatu kepadaNya,karena tanpaNya apalah daya kita tanpa nikmat-nikmatnya.
Sehubungan dengan masalah Hakikat Bergantung Hati Kepada Allah SWT, Kakanda pemateri juga menghubungkan tema kajian dengan masalah yang sering terjadi dalam sebuah organisasi, khususnya di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu sendiri, setiap pemain didalamnya pasti akan merasakan yang namanya kecewa dimana kecewa adalah hal yang tabu, hal yang biasa dalam sebuah organisasi namun apabila kita selalu melandasi setiap perbuatan kita kepada Allah SWT maka In syaa Allah diri akan sulit untuk merasakan yang namanya kecewa, karena memang niatnya untuk berorganisasi ikhlas karena Allah SWT bukan karena sesuatu selain dari menginginkan rahmatnya Allah, itulah pentingnya menanamkan rasa ikhlas dan niat yang baik pada diri kita.
Seperti pada hadits Al-Arbain An-Nawawiyah nomor pertama, tentang niat yaitu setiap amalan tergantung pada niat.

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”[HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah, berbeda dengan seseorang yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia . Dalam hadits disebutkan contoh amalannya yaitu hijrah, ada yang berhijrah karena Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia. Jadi apabila kita berorganisasi atau berikatan dengan niat yang tidak baik maka kedepannya akan berakibat kepada hal-hal yang tidak baik juga, ketika hari ini timbul rasa kecewa dalam diri maka kembali lagi dari niat. Karena antara ikhlas dan ria itu bedanya sangat tipis dan kunci dari rasa ikhlas yang benar-benar ikhlas adalah ketika kita selalu melandasi setiap perbuatan kita hanya kepada Allah SWT tanpa berharap selain dari rahmatNya.

Kita ketahui bersama bahwa pada tanggal 28 oktober kemarin adalah momentum lahirnya hari sumpah pemuda,dan itu merupakan bentuk respon realitas terhadap bangsa yang sedang tidak baik-baik saja, yah itu merupakan tindakan yang baik apabila unjuk rasa tersebut berlangsung dengan damai dan sesuai dengan kaidah-kaidah seharusnya, namun ketika respon realitas ketika panggilan Allah datang diabaikan itu merupakan persoalan yang menunjukkan bahwa Allah belum ada dihati mereka, tauhid mereka masih dipertanyakan, ternyata mereka lebih merespon permasalahan dunia dibanding dengan merespon panggilan penciptaNya, maka perlunya menanamkan pada diri bagaimana itu Tauhid yang  sebenarnya.

Jadi kesimpulan dari Kajian Keislaman tentang Hakikat Bergantung Kepada Allah SWT adalah urgensi dari menanamkan rasa kepemilikan dan rasa ikhlas dalam diri kita terhadap sesuatu, karena ketika rasa kepemilikan dan ikhlas sudah dihadirkan, maka tanpa dipanggil pun kita akan merespon dan kunci dari kebahagiaan sejati adalah ketika kita selalu menjadikan Allah SWT sebagai landasan kita dalam berbuat.

#IMM JAYA
By IMMawati Fatriana (Dep. Bidang Tabligh Pikom IMM FEB)

Billahi Fii Sabilil Haq Fastabiqul Khaerat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad