PEREMPUAN SEBAGAI PILAR PERADABAN - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Rabu, 16 Januari 2019

PEREMPUAN SEBAGAI PILAR PERADABAN

Perempuan adalah agen perubahan. Perempuan memegang peranan penting terhadap maju tidaknya sebuah peradaban. Dari tangan perempuanlah terlahir generasi penentu masa depan, tidak terlalu berlebihan ketika ada pepatah mengatakan perempuan adalah tiang negara.  Karena tanpa mereka, Negara tak akan bisa menghasilkan generasi dambaan yang kita butuhkan.
Islam memosisikan kaum perempuan sesuai fitrah dan kedudukan mereka. Islam tak menghalangi mereka mengenyam pendidikan tinggi. Seperti Fatimah Al Fihri , beliau adalah Muslimah pendiri Universitas tertua di dunia, Universitas  Al Qarawiyyin. Kiprahnya di dunia pendidikan tak diragukan lagi, Masjid Al Qarawiyyin yang dibangunnya  dengan modal sendiri menjadi cikal bakal pusat penyebaran Islam di Maroko. Catatan emas peradaban Islam tak terbantahkan, generasi berkualitas mampu dilahirkan di tangan Ibu tangguh di masanya serta  didukung sistem yang mampu memberikan kebaikan bagi keluarga dan masyarakatnya. Berbeda dengan Barat, saat Islam menjunjung tinggi hak-hak perempuan, peradaban barat justru merendahkan hak-hak perempuan. Perempuan tertindas dan terpinggirkan dan perempuan kaum kelas rendah tak berharga serta memperlakukan kaum perempuan hanya penikmat dan pemuas nafsu belaka. Suara mereka tak didengar, peran mereka termarjinalkan.
Ketika Islam dicampakkan dari kehidupan, lalu diterapkan sistem sekular-liberal, kaum perempuan dirundung keprihatinan. Sejak itu, kedukaan menyelimuti kehidupan kaum perempuan, mereka tak lagi menjadi pilar peradaban. Namun menjadi tumbal peradaban sistem kapitalis – sekular dan terjajah serta tereksploitasi oleh kerusakan sistem kapitalis-sekular yang dipaksakan dalam kehidupan.
Perempuan tak lagi mulia, kaum perempuan muslim di dunia tak lagi tinggi martabatnya. Tercatat 224.239 kasus gugat cerai dilayangkan ke pengadilan, isu perselingkuhan seringkali menjadi alasan istri menggugat cerai suami, serta kekerasan dalam rumah tangga turut mewarnai tingginya angka perceraian di Indonesia. Keluarga berantakan, anak pun menjadi korban. Alasan inilah yang kerap kali digaungkan kaum feminis agar perempuan bangkit dari keterpurukan. Padahal, ketertindasan dan kemalangan berkepanjangan yang menimpa mereka disebabkan kehidupan kapitalis – sekular yang menjauhkan agama dari kehidupan. Akibatnya, mereka tak memahami bagaimana Islam mengatur peran laki-laki dan perempuan. Peran seorang Ibu sebagai pengatur rumah tangga dianggap mengekang dan rendahan. Pakaian muslim yang menutup keindahan tubuhnya dianggap mengungkung kebebasan. Islam dituding diskriminasi dalam kepemimpinan. Syariat Islam dianggap membatasi keberlangsungan perempuan. Poligami, pembagian warisan, hak wali, hak asuh anak, kepemimpinan dan segudang hukum Islam lainnya mereka gugat. Kesetaraan tak didapat ketika syariat Islam dijadikan hukum bagi perempuan. Demikian komentar pejuang hak-hak perempuan, kaum feminis – gender.
Sejatinya dalam Islam tak mengenal kesetaraan seperti yang digaungkan oleh kaum feminis dan gender. Ide kesetaraan gender bukan berasal dari Islam. Ide itu lahir atas respon dari kaum perempuan Barat yang mengalami intimidasi dan diskrimanasi yang mereka alami.
Sistem kapitalisme yang  mengatur kehidupan mereka telah gagal memberikan keadilan dan perlindungan. Di saat islam memuliakan perempuan,  Barat justru masih menganggap kaum perempuan sebagai kaum yang terpinggirkan. Laki-laki dan perempuan diciptakan sesuai fitrah dan posisi masing-masing. Sebagai manusia dan hamba, ketakwaanlah yang menjadi mengukur tingkat ketinggian derajat seorang, baik laki-laki maupun perempuan.
Sehingga seorang laki-laki tidak dibenarkan mengklaim dirinya memiliki derajat lebih tinggi dibanding perempuan, terkecuali ia mengunggulinya dalam segi ketakwaan. Jadi, tidak ada siapapun yang mengungguli siapapun, kecuali atas dasar ketakwaannya di sisi Allah SWT. sebagaimana firman Allah.
“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (QS. An-Nisa [4]: 124).
Sebagai laki-laki dan perempuan, Islam mengatur kedudukan mereka berdasarkan sifat khususnya. Tak perlu dikacaukan dengan ide gender dan feminisme yang sejatinya lahir dari pemikiran Barat. Cukup Islam menjadi standar dan ukuran bukan kapitalis, sekular, dan liberal yang terbukti gagal. Adanya laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda bukan dalam rangka siapa yang paling istimewa, namun bertujuan agar kelestarian keturunan manusia tetap terjaga sesuai fitrahnya.
Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling beriringan bukan bertentangan. Mereka diciptakan untuk saling melengkapi kekurangan, bukan menjadi jurang perbedaan. Hanya dengan pengaturan Islam, mereka terpelihara kodratnya sebagai manusia dan hamba Allah SWT.

Rangkuman Hasil Kajian IMMawati
Materi : Perempuan Sebagai Pilar Peradaban
Pemateri : Aurora Arifah Husni
Oleh : Nurhatifa & Hilyatul Janna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad