PERLUNYA PENDEKATAN KRITIS DALAM DUNIA PELAJAR - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Rabu, 28 November 2018

PERLUNYA PENDEKATAN KRITIS DALAM DUNIA PELAJAR

Sistem pendidikan yang umum berlaku di dunia saat ini, terpola sedemikian rupa dalam suatu mekanisme dimana praktek penindasan berlangsung secara terus-menerus, atas nama "mendidik" dan "mencerdaskan". Institusi pendidikan yang semestinya mencerahkan dan memerdekakan manusia, justru menjadi sarana penindasan, dominasi dan hegemoni. Secara internal penindasan itu berlangsung terhadap murid oleh gurunya. Dan secara eksternal, penindasan itu berasal dari kekuasaan dan dunia industri, yang melakukan hegemoni terhadap sekolah, guru, peserta didik, dan watak kurikulum. Kadang-kadang institusi pendidikan tidak ubahnya penjara yang dijaga oleh sipir sipir yang kejam. Para sipir (yang diperankan oleh guru) memperlakukan murid-murid secara tidak manusiawi, tidak ubahnya tahanan.
Memang, sekolah bukan lah penjara untuk para penjahat, tetapi pada realitasnya sekolah-sekolah melakukan pengekangan dan pemenjaraan daya kreasi peserta didiknya sebagai manusia yang bebas-merdeka. Setiap peserta didik harus terkungkung pada suatu watak kurikulum yang berlaku dan itu belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh setiap peserta didik tersebut.
Sependek pengetahuan berdasarkan beberapa pengalaman, sistem pendidikan di sekolah kelihatannya sekedar mengejar nilai rapor (IPK), sedangkan keterampilan hidup dan realitas dunia yang sesungguhnya tidak diajarkan. Seorang anak  dilihat berdasarkan nilai ulangan yang diperolehnya, bukan pada kemampuannya secara keseluruhan. Tentu kita semua masih ingat, betapa ketika sekolah dulu, berbagai macam hal dalam mata pelajaran, sudah kita hapalkan, tetapi apakah sampai kini berbekas dibenak anda??? Tidak sedikit orang terutama saya sendiri yang sudah 12 tahun belajar matematika di sekolah, tetapi tetap saja tidak bisa bermatematika dengan baik,,,, kecuali bagi kawan2  yang memang masih berada di bidang itu. Itu karena kita lebih meggunakan pendekatan menghapal bukan memahami.
Hal ini kemudian menyebabkan, dunia pendidikan seolah-olah berada jauh diatas awan dan tidak berpijak di bumi (realitas yang sebenarnya). Itulah sebabnya, berbagai macam persoalan di tengah masyarakat yang menjadi realitas dunia yang sesungguhnya, tidak mampu diselesaikan oleh lulusan sekolah.  Materi-materi pelajaran berbicara tentang negeri kita yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, padahal kenyataannya kekayaan kita itu sudah jauh berkurang dan tidak melimpah lagi. Kita diceritakan tentang kemajuan tekhnologi yang semakin canggih, seakan-akan kita telah memilikinya, padahal hanya ada di negeri orang. Anak-anak di suatu daerah terpencil ditengah hutan, di tuntut oleh kurikulum nasional untuk belajar yang macam-macam, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan lingkungan sekitar mereka. Anak-anak di daerah pertanian atau di kawasan pesisir, disuguhkan dengan berbagai macam mata pelajaran yang berbau industri, dan tidak diajarkan oleh kurikulum nasional tentang teknik-teknik bercocok tanam atau melaut yang lebih baik. Akhirnya, lahirlah generasi anak-anak petani atau nelayan yang sudah malas bercocok tanam atau melaut. Lalu meninggalkan desa, mengadu nasib di kota atau negeri orang dan akhirnya (hanya) menjadi buruh murah di pabrik-pabrik, karena tidak memiliki keterampilan yang memadai. Hal inilah yang kemudian menyebabkan indeks pembangunan manusia disuatu negara semakin menurun dan tak mampu bersaing dengan sumber daya manusia dibeberapa negara hingga negara itu masih dianggap sebagai negara berkembang dan berbagai problematika dan kesenjangan sosial masih menggorogoti.
Secara sederhana, kita dapat mengklasifikasikan pendekatan kritis dalam dunia pendidikan. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan pembaharuan dan perubahan yang mendasar (revolusioner) di masyarakat, dengan melakukan penentangan terhadap ketidakadilan, keimpangan dan sisem yang menindas, melalui proses penyadaran kritis yang mencerahkan dan membebaskan. Peserta didik dipandang sebagai subjek yang aktif, yang mandiri dan mampu berbuat serta bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan realitas dunianya. Pola komunikasi antara guru dan murid berlangsung secara dua arah. Model pendidikan ini berusaha mendorong dan membantu masyarakat menemukan cara untuk menentukan kehidupannya sendiri, serta terbebas dari dominasi, hegemoni dan sistem yang tidak adil.

Oleh : KASMIA (KADER VISIONER)
IMM FEB Unismuh Makassar 
Periode 2018-2019


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad