PENGANTAR EPISTEMOLOGI ISLAM (SESI 1) - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Selasa, 27 November 2018

PENGANTAR EPISTEMOLOGI ISLAM (SESI 1)


HUBUNGAN IDEOLOGI DAN PANDANGAN DUNIA
Ayatullah Murtadha Muthahari, dalam bukunya pengatar epistimologi islam, mengatakan bahwa yang menyebabkan pertikaian antara suku-suku dan bangsa-bangsa adalah karna sandaran atau dasar ideologinya yang berbeda-beda. Dan ia mengatakan lebih lanjut sandaran atau dasar dari ideologi ini adalah ‘padangan dunianya’. Yang dimaksud dengan padangan dunia adalah suatu kesimpulan yang di ambil dari cara berfikir manusia yang memiliki penafsiran dan pengkajian yang berada di alam, sejarah dan manusia itu sendiri. Dan semua itu berasal dari cara berfikir atau pengetahuan seseorang dalam mengkaji atau menafsirkan apa yang ada di alam, sejarah dan manusia.
Setiap kelompok maupun individu memiliki padangan dunia yang berbeda-beda. Satu kelompok mengatakan bahwa aktifitas manusia harus seperti ini dan yang lain mengatakan sebaliknya, jika cara berfikir seseorang saling berbeda otomatis padangan dunianya pun berbeda dan jika padangan dunia seseorang berbeda otomatis ideologi yang ia anut pun pastilah berbeda. Mengapa demikian? karna sandaran dan asas dari ideologi adalah padangan dunia dan cara berfikir manusianya masing-masing.
Karna itu semua di kembalikan dari apa yang mereka ketahui dan simpulkan, maka itulah yang akan menjadi tujuan mereka dalam menjalani kehidupanya. Setiap ideologi itu menentukan tujuan mereka menjalani kehidupanya dan didalam ideologi itu sendiri terdapat sederetan perintah dan larangan. Suatu ideologi itu akan mengajak pengikutnya pada suatu tujuan tertentu serta menunjukan jalan yang akan mengantarkan sampai pada tujuan tersebut. Ideologi akan menentukan bagaimana kita seharusnya, kita akan kemana seharusnya, harus bagaimana kita bersikap, seperti apa tingkah laku kita dalam menghadapi setiap permasalahan dan ia mengatakan, ‘harus demikian, kalian harus bepergangan pada yang demikian dan lain sebagainya.
Bagaimnapun bentuk yang kita pikirkan tentang padangan dunia (kesimpulan) maka akan berefek kepada ideologi kita dan ideologi kita pun akan mengikuti segala bentuk padangan dunia yang kita pikirkan tersebut. Ideologi merupakan buah hasil dari pemikiran kita tentang padangan dunia dan padangan dunia adalah hasil dari apa yang kita pikirkan atau yang kita ketahui tentang sekeliling kita. Sebagai perumpamaan seperti membangun rumah fondasi kita adalah pandangan dunia, jika padangan dunia kita tidak kokoh maka rumah yang akan di bangun akan mudah roboh dan hancur pula, bagaimanapun bagusnya. Sedangkan jika fondasi kita kuat dan kokoh maka rumah yang akan di buat akan tahan dan berdiri kokoh walaupun angin menerpanya, ideologi bagaikan atap dari rumah kita sendiri yang akan melindungi kita dari panas, hujan dan badai.
KEMUNGKINAN PENGETAHUAN
Pembicaran awal dari epistimologi yang telah ada sejak dahulu: mungkinkah manusia memiliki pengetahuna dan memahami alam? Jika mungkin apa syaratnya dan jika tidak mungkin kenapa, ada sebagian orang mengatakan bahwa manusia mungkin memiliki pengetahuan dan sebagianya lagi ragu atas kemungkinan manusia memiliki pengetahuan. Pada masa setelah Socrates, ada sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai “sophisme” dan yang paling terkenal di antara mereka adalah Pyrrho. Ia menyajikan sepuluh ketidak mungkinan manusia memiliki pengetahuan. Argument sederhana yang ia sampaikan, bila manusia hendak mengetahui sesuatu, apa alat dan istrumen yang hendak di gunakan? Kita tidak memiliki alat lebih dari dua, “indra dan rasio” dan ia bertanya kembali apakah indra  dan rasio tidak pernah melakukan kesalahan? Pasti semuanya akan menjawab bahwa indra dan rasio pasti sering melakukan kesalahan, contohnya saja saat ketika kayu yang di celupkan di dalam air akan kelihatan bengkok dan ketika diangkat kembali ternyata kayu itu lurus di sini membuktikan bahwa indra melakukan kesalahan dan tidak mungkin mendapatkan pengetahuan dengan mengunakan indra dan rasio. Indra dapat melakukan kesalah dan rasio pun dapat melakukan kesalahan sedangkan kita tidak memiliki alat pengetahuan selain indra dan rasio maka dari itu kita tidak bias menjadikan keduanya sebagai pengangan.
Jika Pyrrho mengatakan seperti itu berarti sebenarnya Pyrrho sudah sampai pada hakikat kebenaran karna mana mungkin Pyrrho mengatakan jika kayu yang lurus di masukan kedalam gelas berisi air akan kelihatan bengkok dan jika di keluarkan akan kelihatan lurus, secara tidak langsung Pyrrho mendapatkan satu pengetahuan. Saat anda mengatakan bahwa di suatu tempat rasio telah melakukan kekeliruan, hal itu sama dengan ungkapan: “saya mengetahui bahwa rasio telah melakukan suatu kekeliruan”, maka anda telah sampai pada hakikat.

Sumber : Buku Pengantar Epistemologi Islam (Murthadha Muthahari)

Oleh : NURUL AULIA (KADER VISIONER)
IMM FEB Unismuh Makassar 
Periode 2018-2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad