KEKERASAN MENGATASNAMAKAN AGAMA - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Kamis, 29 November 2018

KEKERASAN MENGATASNAMAKAN AGAMA

Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan perkembangan zaman di era milenial ini tak jarang kita menjumpai banyaknya kasus-kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kekerasan ini tidak hanya serta merta ada tapi, kerap kali semua terjadi itu sebagai akibat dari paham dogamatis, propaganda, politik serta perebutan kekuasan-kekuasaan dalam berbagai sisi. Tidak hanya diluar negeri kasus seperti ini pun sudah tak lazim di negara Indonesia. Di Indonesia sendiri, diskriminasi atas nama agama nyaris menjadi makanan sehari-hari. Di Israel, agama Yahudi dijadikan dasar sekaligus pembenaran untuk melakukan penindasan nyaris tanpa henti kepada Palestina. Di India, sebelum Natal 2014, sekitar 5000 keluarga diminta untuk memeluk kembali Hinduisme. Mereka yang tidak mau mengubah agama diminta untuk keluar dari India. Sebagai bangsa, India juga terus dikepung oleh konflik yang terkait dengan agama. Fenomenayang sama berulang kembali: agama digunakan untuk membenarkan tindak kekerasan, guna membela kepentingan ekonomi dan politik yang tersembunyi. Beberapa waktu lalu, kelompok Islam ekstrimis juga melakukan pembunuhan massal terhadap anak-anak di Pakistan. Lagi-lagi, agama digunakan untuk membenarkan kekerasan.
Pada dasarnya Agama dalam KBBI adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Dan yang pasti sifat dasar dari sebuah agama itu baik dan suci. Akan tetapi, penganut dari agama itulah yang mengubah sifat dasar tersebut. Ada pepatah Cina kuno yang mengatakan, ”Alat yang baik di tangan orang jahat akan menjadi alat yang jahat.” Sehingga, Sebaik apapun ajaran suatu agama, jika dianut oleh sekumpulan orang yang menderita dan tersesat, maka agama itu akan menjadi jahat yang menghasilkan penderitaan bagi banyak orang.
Lebih mirisnya lagi, dampak tindakan-tindakan ini membuat jutaan orang di belahan dunia menjaadi skeptis terhadap suatu agama. Contohnya terhadap agama islam, mereka dengan mudahnya menjustifikasi bahwa setiap orang yang beragama islam adalah pelaku kekerasan atau terorisme. Bahkan di negara tertentu banyak orang-orang yang anti-islam. Mengapa semua itu bisa terjadi? Mengapa agama yang sejatinya adalah sesuatu yang suci, yang katanya mengajarkan kebaikan universal dalam hubungan yang transendetal terus di pelintir dan di klaim sebagai sesuatu yang harusnya di takuti? Dalama buku tentang manusia karya Reza A. A Wattimena, ia berpendapat bahwasannya Akar dari segala kejahatan dan kekerasan adalah pikiran. Semua tindakan dimulai dari pikiran. Semua penilaian dan analisis mulai dari pikiran. Maka, kita pun harus masuk ke ranah pikiran, guna membongkar akar kekerasan.pengaruh lain yang menjadi latar belakang kekerasan menurutnya ialah Pola pikir dualistik yaitu selalu melihat dunia dalam dua kutub yang bertentangan, yakni benar-salah, baik-buruk, suci-tidak suci, beriman-kafir, serta dosa-tidak dosa. Dengan pembedaan ini, kita lalu terdorong selangkah lebih jauh untuk melihat orang lain sebagai musuh (yang berdosa, kafir, salah, dan buruk) yang harus dihancurkan.
Lantas apakah yang dapat menjadi obat untuk masalah ini? Jawaban saya mungkin cukup sederhana yaitu “hati”. Mengapa hati? Dalam sebuah hadist dikatan bahwa Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (H.R Al-Bukhari dan Muslim). Artinya, setiap manusia sebenarnya telah memiliki radar hati sebagai pembimbing. Suara hati adalah pembimbing paling sederhana terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat. Kekuatan kelembutan Hati akan mengalahkan kerasnya pikiran-pikiran yang buruk. Segala bentuk kekerasan dan kejahatan bisa dilenyapkan, jika kita melibatkan hati nurani kita sebagai pembimbing. Kita tidak lagi memiliki dorongan untuk mencap atau menyakiti apapun atau siapapun, karena kita semua, sejatinya, adalah satu dan sama. Bahkan, pada situasi yang paling ekstrem, kita lebih memilih untuk disakiti, daripada menyakiti orang lain.
#SALAMPERDAMAIAN
Oleh : WIWI AMALIA (KADER VISIONER)
IMM FEB Unismuh Makassar 
Periode 2018-2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad