Memilih Pemimpin Karena Apanya Dia atau Siapaku Dia? - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Kamis, 18 Oktober 2018

Memilih Pemimpin Karena Apanya Dia atau Siapaku Dia?


Sebelum masuk pada ulasan tentang sejauh mana pendekatan kita dalam memilih seorang pemimpin mungkin alangkah afdholnya kita merefleksi Konsep manusia menurut al Qur'an.

Dalam kehidupan manusia di permukaan bumi ini telah jelas bahwa ada amanah yang diemban yakni selaku yang menghamba (QS. Az-Dzariyat:56) dan menjadi wakil Allah SWT. sebagaimana tertuang indah dalam kitab suci (QS. AL-Ahzab:72). Pada ayat tersebut menjelaskan Maha Pencipta telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung- gunung. Namun mereka enggan untuk memikul amanah itu, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sebuah penegasan di akhir ayat yang mengatakan sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.

Manusia Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa yang mempunyai fungsi di bumi  sebagai khalifah (pemimpin) dalam hal ini fungsinya sebagai pengatur dan pengelolah di bumi (Qs.Al-Baqarah:30)

Namun dalam menjalankan tugas dan fungsinya  sebagai pemimpin bisa berpotensi sebagai perusak jika apa yang ada dalam diri manusia  seperti   tidak memfungsikan akalnya dengan baik padahal itu sebuah karunia yang menjadi pembeda dari sekian makhluk yang diciptakan Allah SWT. Ahsanu Taqwin dan Ulil Albaab yang kemudian mampu untuk mengetahui mana yang hak dan bathil dalam hal ini dalam Al-Qur'an manusia sering disebutkan  dengan nama Al Insan.

Kemudian karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan untuk mememenuhi hidupnya secara biologis dalam Al-Qur'an dikenal sebagai  Al-Basyar. Manusia butuh makan, butuh istirahat, dan lain lain. Sembari manusia sebagai makhluk biologis manusia pun tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lainnya dalam Al-Qur'an dikenal dengan nama An-Nas.

Ulasan singkat di atas menggambarkan tentang manusia sebagai pemimpin dalam pendekatan wahyu namun objek bahasan kali ini mengenai atas dasar apa sehingga mengapa kita memilih seseorang untuk menjadi pemimpin apakah karena apanya atau siapaku dia?

Melihat kontestasi politik hari ini yang kian memanas antar kubu  bagaikan obor olimpiade yang berkobar kobar  namun ketika olimpiade selesai maka kobaran obornyapun redup dan kembali tenang baik itu perpolitikan antar kubu dalam kelembagaan pemerintahan dengan skala nasional sampai ke tataran desa bahkan kontestasi perpolitikan dalam lembaga kemasyarakatan dan pemuda. Dan arahnya sama yakni semuanya  ingin mencapai visi yang telah ditentukan sejak awal namun misinya berbeda entah dengan cara black campain dalam hal ini saling menjelek jelekkan antar kubu, bahkan membuat  propaganda-propaganda yang tujuannya untuk menjatuhkan lawan sehingga mata yang awam terombang ambing dalam memilih pemimpin yang sebenarnya. Sejatinya kadang lawan jadi teman begitupun sebaliknya.

Atas dasar itupula dalam hal memilih pemimpin apakah kita memilih dia si calon pemimpin karena apanya dia?.

Salah satu pandangan yang lebih obyektif dalam memilih seorang pemimpin adalah dilihat dari kompetensi dasarnya selaku manusia yang meliputi:

1.    Spritualnya sebagai rujukan untuk mengetahui sejauh mana pemahamannya si calon dalam beragama
2.    Intelektualnya sebagai rujukan untuk mengetahui sejauh mana kapasitas keilmuannya  si calon dalam menggagas visi dan misinya kedepan yang meliputi. Perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staff, dan mengevaluasi.
3.    Emosionalnya sebagai rujukan untuk mengetahui sepak terjangnya si calon dalam hal hubungannya kepada manusia lainnya (humanitas)
4.    Financialnya sebagai rujukan untuk mengetahui sejauh mana kedermawanannya dalam merespon hal-hal yang menyangkut kemanusiaan

Sedangkan memilih calon pemimpin atas dasar siapaku dia. kita mungkin lebih subyektif dalam menilai mereka dan memilihnya karena:

1.    Dia adalah bagian dari silsilah keluarganya kita jadi mau tidak mau kita harus memilihnya tanpa harus mempertimbangkan calon lain

2.    Dia adalah sosok yang paling dekat dengan kita dengan sikap blusukannya bahkan bantuannya setiap saat mengalir ke kita.

3.    Dia keturunan orang terpandang bisa jadi dia mengikuti jejak pendahulunya

Dari sekian gambaran di atas dalam memilih calon pemimpin entah kita melilih atas dasar karena apa yang ia miliki sehingga ia hadir sebagai calon pemimpin untuk dipilih ataukah kita memilih dia karena siapaku dia, karena kita mengenalnya dekat dengan kita tanpa meninjau dari sisi lainnya

Jikalau dari sekian calon pemimpin yang ada tidak memenuhi kriteria yang ada maka salah satu jalannya adalah dengan rumus ini.



Angka 1 adalah Kapasitas pemahamannya tentang  agama dengan sifat dan sikapnya yang amanah, jujur, cerdas, dan tabligh.

Angka 0 adalah kewibawahannya atau gaya kepemimpinannya yang kharismatik

Angka 0 adalah ia berasal dari keturunan para pemimpin-pemimpin hebat di masa lalu

Angka 0 adalah ia seorang yang dermawan yang didukung dengan harta yang dimiliki

Sebuah kesempurnaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin Jika angka keseluruhan di gabung sesuai dengan urutan di atas maka angka angka tersebut menjadi 1000  dan angka 1 adalah hal yang mutlak untuk dimiliki namun jika ada  salah satu di antara angka 0 yang hilang masih ada 100 jika tidak memiliki dua angka 0 masih ada 10 nilainya jika ketiga tiganya angka nol tidak ada maka masih ada angka 1. Angka 0 notabenenya sebagai pelengkap. Dan jika  tidak ada pada dirinya ketiga angka 0 kita masih bisa toleran.

Dalam hal memilih pemimpin dimanapun, kapanpun itu kita tetap senantiasa mempertimbangkannya apakah memilih atas dasar apanya dia ( apa yang ia miliki) ataukah karena siapaku dia (orang yang lebih dekat dengan kita). bukan hanya bergantung pada terakomodirnya kepentingan-kepentingan dengan cara yang sembarangan, bukan karena minyak satu liter dan gula satu kilo kita menggadaikan hak pilih kita.

Mari tegaskan untuk memilih yang terbaik.

Dan semoga hidup kita saat ini dan kedepannya bagaikan kehidupan yang mendapatkan piagam madina, kehidupan yang Baldatun Tayyibatun Warabbun Ghafur.



Wallahu a'lam.

Oleh : Hamsyar (KABIDOR IMM FEB Periode 2017-2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad