2018 - IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

IMM FEB

  • VISIONER
  • SPIRITUAL
  • INTELEKTUAL
  • HUMANITAS

Hot

PIKOM IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Minggu, 30 Desember 2018

IMM FEB UNISMUH MAKASSAR GELAR VISIONER SOSIAL CAMP (VISCAMP) DI DESA BONTOMANAI KAB. GOWA

Desember 30, 2018 0

Pimpinan Komisariat (PIKOM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar gelar Visioner Sosial Camp (VISCAMP) yang bertema “Simpul Kebersamaan dalam Bingkai VISCAMP” di Desa Bontomanai, Kec. Bungayya, Kab. Gowa yang berlangsung dari Ahad 30 Desember 2018 sampai Selasa 01 Januari 2019.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Desa Bontomanai pada Ahad sore di salah satu ruang kelas sekolah di desa tersebut di hadiri pula oleh berbagai elemen pemerintahan dan masyarakat yang ada Desa Bontomanai seperti Kepala Dusun, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Kelompok Tani, dan Pengurus Masjid serta kader-kader internal PIKOM IMM FEB.
Akmal Ridwan Ketua PIKOM IMM FEB Unismuh Makassar menjelaskan bahwa kegiatan VISCAMP ini bertujuan untuk membangun kebersamaan seluruh elemen yang ada dalam internal IMM FEB Unismuh Makassar mulai dari Pimpinan periode 2018-2019, kader baru, serta kakanda FOCAL IMM FEB kemudian mampu pula bermanfaat bagi masyarakat di lokasi tempat kegiatan.
“Kegiatan VISCAMP ini merupakan salah satu perwujudan dari trilogi gerakan IMM dalam hal ini gerakan keagamaan, kemahasiswaan, dan Kemasyarakatan. Dalam gerakan kemasyarakatan ini di harapkan kader-kader IMM mampu bermanfaat dan menjalin sinergitas dengan masyarakat” pesan Indra Darius Kala Ketua Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat PC IMM Kota Makassar dalam sambutannya.
Pemerintahan setempat sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa seperti yang dilakukan kader IMM FEB ini, karena momentum kegiatan tersebut bertepatan dengan pergantian tahun dan sesuai dengan surat edaran dari Pemerintah Sulawesi Selatan hendaknya masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan yang positif, salah satunya kegiatan yang di lakukan oleh mahasiswa seperti kajian keislaman dan kegiatan bakti sosial. (RILIS BY IRM)
Read More

Senin, 03 Desember 2018

GENERASI MILINEAL DAN STRATEGI MENGHADAPI PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

Desember 03, 2018 0
Lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi, bukanlah hal yang terelakan lagi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak positif dan negative terhadap karakter dan moral bangsa terutama di kalangan pemuda pemudi Indonesia. Fenomena diatas adalah fenomena suatu masa, dimana masa tersebut di tandai dengan semakin lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang biasanya kita kenal dengan zaman milineal. Di zaman milineal, semua aktivitas pemenuhan kebutuhan manusia bisa diselesaikan dalam waktu singkat dengan berbagi teknologi yang telah tersedia, segala kebutuhan dan keinginan manusia di kemas sedemikian rupa menjadi sesuatu yang instan. Fenomena seperti ini membuat generasi bangsa semakin bermalas malasan dalam melakukan sesuatu. Saat ini, tidak jarang kita temukan generasi bangsa yang di serang penyakit capek sebelum beraktivitas dikarenakan telah di ninabobokkan dengan hal-hal yang instan. Melihat peristiwa di atas, menjadi sebuah keresahan, bahwa suatu saat nanti mutu dan kualitas generasi bangsa akan semakin mengalami kemunduran. Hal ini mungkin di anggap sepeleh karena efeknya yang secara tidak langsung membuat kita kurang waspada dengan bahayanya. Namun jika keta renungkan tanpa kita sadari dampak negative dari perkembangan teknologi telah mengakar di pemikiran kita. Contoh kasus, Tiktok yang secara tidak langsung sedikit demi sedikit telah mengikis identitas kita sebagai generasi pembangun bangsa, dapat kita saksikan generasi sekarang yang dengan asyiknya memperagakan symbol lesbian, joget dalam masjid, tanpa di sadari hal semacam ini merupakan sebuah penghinaan akan budaya yang telah ada. Peristiwa di atas merupakan bukti akan miskinnya moral generasi bangsa yang telah miskin. Secara tidak langsung kita sebagai anak Indonesia telah menjual harta, harkat, dan martabat bangsa yang sangat berharga yang telah di wariskan kepada kita.
Dizaman milineal kriminalisasi yang sangat berbahaya adalaha lewat media. Berbagai informasi bohong atau hoax banyak kita saksikan perharinya, yang dikhawatirkan adalah jika informasi seperti ini kita konsumsi tiap harinya atau bahkan telah mempengaruhi pemikira kita hingga saat ini. Hal ini jika terus dibiarkan bisa berdampak buruk pada perkembangan informasi dan kepercayaan masyarakat terutama pemuda kepada para pemimpinnya dan bisa saja menjadi pemicu lahirnya konflik social baik antar agama, ras, serta budaya. Ini merupakan tantangan besar yang harus dihadapi generasi bangsa kedepannya. Dalam situasi semacam ini, Negara harus melahirkan para pemimpin yang bijak dalam pemanfaatan teknologi bagaimanapun caranya itu sudah menjadi kebutuhan sekarang dan 30 tahun kedepannya, serta bijak dalam menentukan mana informasi yang benar dan informasi yang salah. Ketegasan seorang pemimpin untuk menyikapi berbagai dampak negative di atas adalah pondasi negeri ini untuk menciptakan generasi yang bijak dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.
Yah, jika dilihat dari sisi lain mungkin lajunya perkembangan ilmu  pengetahuan dan teknologi di zaman milineal memberikan dampak negative di kalangan pemuda bangsa. Namun jika ditinjau lebih jauh, ternyata perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga memberikan dampak positif yang sangat besar dalam memperbaiki tatanan social dalam negeri. Diantaranya: Adanya akses informasi yang cepat serta masyarakat dapat mengetahui berbagai informasi terkait kondisi perekonomian, pertahanan dan pemerintahan di Indonesia, melihat hal tersebut, membuat masyarakat dengan mudah dapat mengkritisi atau meramal kondisi Negara kedepannya sehingga dapat mempersiapkan apa yang menjadi kebutuhan untuk menanggulangi bencana atau bahaya yang telah di prediksikan jauh sebelumnya. Melalui analisis saya dalam kehidupan sehari-hari, perkembangan teknologi pada Zaman Milineal memberikan 3% dampak negative dan menyumbangkan 97% dampak positif dalam kehidupan sehari-hari. Namun dari kebanyakan generasi saat ini yang paling banyak di manfaatkan oleh generasi saat ini adalah yang 3% tadi dan mengabaikan 97% yang menjadi dampak positif itu sendiri.
Kecenderungan seperti di atas adalah masalah besar yang mesti di tanggulangi sesegera mungkin. Pemimpin kedepannya harus mampu menyediakan fasilitas teknologi informasi dan komuni kasi serta fitur lain yang bersifat kekinin dan membuat pencinta dunia maya dapat tertarik menggunakan layanan tersebut. Melihat kasusu tersebut nampaknya basic teknologi harus dapat di kuasai oleh para pemimpin kedepannya. Dalam hal politik, lajunya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi banyak pemangku kebijakan yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Seharusnya ilmu yang dimiliki dapat menjadikan kesejahteraan masyarakat semakin di rasakan melalui teknologi yang tersedia. Selain itu pengamanan Negara dapat di perketat baik dari dalam maupun dari luar melalui fasilitas yang tersedia, hubungan luar negri dapat di jalin lebih baik dengan akses komunikasi yang semakin cepat, hubungan politik dalam Negeri dapat semakin baik melalui berbagai fitur yang tersedia. Namun yang terjadi sekarang kemajuan ilmu pengetahuan membuat orang semakin serakah dan menjadikan ilmunya itu untuk kepentingan pribadi dengan mengeksploitasi sumber daya yang tersedia baik sumberdaya alam maupun sumber daya manusia. Kemajuan teknologi dalam hal berpolitik melalui akses komunikasi yang cepat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi semata dengan menyebar informasi hoax untuk menjatuhkan kubu yang menji lawan politik, hal tersebut membuat kondisi politik diIndonesia semakin keruh  hingga susah untuk melithat mana politik yang murni membangun Negara dan mana yang hanya sekedar mendapatkan kepuasan pribadi. Melihat kondisi di atas, menjadi sebuah kewajiban agar kira dapat hadir seorang pemimpin dari generasi masa kini untuk memberikan benang merah dan titik cerah ditengah benyaknya permasalahn politik yang ada. Referensi keislaman serta keimanan yang kokoh menjadi pondasi untuk menghadapi perpolitikan di indinesia, serta pemimpin harus dapat menampilkan diri di tengah masyarakat guna memberikan pencerah di tengah mansyarakat. Hal ini sudah menjadi suatu keniscayaan yang harus di miliki pemuda saat ini untuk menjadi pemimmpin kedepannya.
Jika teknologi kita manfaatkan untuk menyebar berita yang benar, atau jika ada satu inforrmasi hoax yang tersebar maka kita dapat menutupinya dengan 10 berita kebaikan yakin dan percaya kita adalah pemenang dari peperangan yang ada. Pemimpin di masa mendatang harus mampu melakukan hal seperti itu dengan berbagai media dan teknologi yang ada.Jika menengok kondisi pertahanan dalam negri nampaknya menjadi sebuah kekhawatiran, karena pertahanan bukan hanya di jaga dengan fisik atau secara langsung namun yang membahayakan sekarang adalah banyaknya ideology baru juga paham-paham radikal yang membahayakan keutuhan Negara serta mengancam utuhnya pancasila sebagai dasar Negara melalui berbagai media yang tersedia. Di zaman milineal, pertahanan Negara tidak hanya di perketat dengan senjata api tapi harus juga di perketat lewat media.
Penjelasan di atas adalah hasil analis saya dalam kehidupan sehari-hari, intinya untuk menghadapi berbagai tantangan di atas, di butuhkan para pemimpin yang bukan hanya kuat dalam segi fisik tapi juga harus memiliki landasan ideology yang kuat dan pemahaman ilmu pengetahuan yang kuat serta bijak dalam penggunaannya.

Oleh : RIAN SAPUTRA (KADER VISIONER)
IMM FEB Unismuh Makassar 
Periode 2018-2019
Read More

Minggu, 02 Desember 2018

ETIKA BERGAUL DALAM ISLAM" RANGKUMAN HASIL KAJIAN IMMAWATI IMM FEB UNISMUH MAKASSAR

Desember 02, 2018 0

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain. Istilah pergaulan berarti kegiatan manusia untuk membaur bersama manusia lainnya dan berinteraksi satu sama lain. Dalam islam pergaulan diatur sedemikian mungkin sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti halnya konflik dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan dan berasal dari berbagai suku dan Allah menghendaki manusia untuk saling mengenal satu sama lain sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat : 13).
1.     Pergaulan dengan sebaya
Teman sebaya atau karib adalah orang-orang atau teman yang usianya tidak terpaut jauh dengan kita baik sama maupun lebih muda.
Contohnya:
a.  Mengucapkan salam setiap bertemu dengan teman sebaya dan sesama muslim. Jika perlu kita bisa berjabat tangan tentunya jika orang tersebut berjenis kelamin sama ataupun mahram kita.
b.   Saling mengerti serta memahami kebaikan dan kekurangan masing-masing dan menghindari segala macam jenis perselisihan
c.  Teman sebaya hendaknya saling tolong menolong dalam hal kebaikan dan menolong teman sebaya yang sedang dalam kesusahan
2.     Pergaulan dengan orang yang lebih tua
Adapun islam senantiasa mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua dan orang yang lebih tua dari kita.
Contohnya:
a.  Menghormati mereka dengan sepenuh hati dan senantiasa mengikuti nasihat mereka dalam kebaikan.Mencontoh tingkah laku mereka yang baik dan menjadikannya pelajaran
3.     Pergaulan dengan lawan jenis
Islam sendiri mengatur pola hubungan antara pria dan wanita serta memisahkan keduanya sesuai dengan syariat yang berlaku
Contohnya:
a.      Menghindari berkhalwat atau berdua-duaan seperti halnya dalam pacaran
b.  Tidak memandang lawan jenis dengan syahwat atau pandangan nafsu. Hindari memandang lawan jenis kecuali jika benar-benar diperlukan
Didalam IMM sangat ditegaskan bahwa jauh tak berjarak dekat tak bersentuhan.
BerIMMlah karena Lillahitaala bukan karena Seseorang.
Billahi Fisabililhaq Fastabiqul Khaerat.
 
Pemateri : A. TRIA RISKI AMALIA (BENDAHARA UMUM)
Rangkuman Oleh : FITRI HANDAYANI(KADER VISIONER)
IMM FEB Unismuh Makassar 
Periode 2018-2019
Read More

IMM FEB UNISMUH MAKASSAR PERKUAT PENDAMPINGAN KADER MELALUI KEGIATAN FOLLOW UP AKBAR

Desember 02, 2018 0
Pimpinan Komisariat (PIKOM) Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Makassar menggelar Follow Up Akbar DAD dengan tema” Internalisasi Nilai-Nilai Ideologi dalam Mewujudkan Kader yang Berintegritas” di Pantai Tanjung Bayang, Makasssar, Sabtu-Ahad(01-02/12/2018).
Kegiatan ini di ikuti oleh kader-kader baru PIKOM IMM FEB Unismuh Makassar Angkatan DAD 74 dan 75, dengan jumlah 22 orang IMMawan (sebutan untuk mahasiswa yang telah DAD) dan 49 orang IMMawati  (sebutan untuk mahasiswi yang telah DAD), yang dihadiri pula oleh Kakanda Forum Komunikasi Alumni (FOKAL) beserta Pimpinan FEB Unismuh Makassar).
Sekretaris Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman IMM FEB Unismuh Makassar, Agus Ramadani mengatakan, kegiatan follow up ini adalah proses pendampingan setelah mengikuti perkaderan DAD, yang bertujuan tidak hanya kembali merefleksi materi-materi  DAD, tetapi juga menambah pengetahuan kader baru baik yang bersifat keilmuan dan penyadaran kembali jadi dirinya sebagai kader, follow up juga tidak hanya dilakukan di kelas saja akan tetapi juga ada outdoor atau biasa di sebut follow up akbar, untuk follow up akbar selain bertujuan meningkatkan keilmuan dan jati diri sebagai seorang kader, follow up akbar juga bertujuan untuk lebih saling mengenal kepada sesama kader baru,dan juga kepada  kepada kakanda-kakandanya di IMM terkhusus di IMM FEB.”
“Follow up yang sifatnya pendampingan sangat di perlukan setelah mengikuti perkaderan, karna dengan pendampingan kader-kader baru bisa lebih mengenal IMM karena untuk menjadi kader militan dan berintegritas tidak cukup hanya dengan perkaderan saja tetapi dengan pengawalan yang baik terhadap kader, kader bisa terarahkan dengan baik.” Lanjut Agus. 
Kegiatan ini pula dirangkaikan dengan acara nonton bersama film Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Kota Konstantinopel dan di akhiri dengan kegiatan makan  bersama kader peserta follow up, Pimpinan IMM FEB Periode 2018-2019 dan Kakanda FOKAL IMM FEB Unismuh Makassar.(rilis by irm)

Read More

Kamis, 29 November 2018

KEKERASAN MENGATASNAMAKAN AGAMA

November 29, 2018 0
Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan perkembangan zaman di era milenial ini tak jarang kita menjumpai banyaknya kasus-kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kekerasan ini tidak hanya serta merta ada tapi, kerap kali semua terjadi itu sebagai akibat dari paham dogamatis, propaganda, politik serta perebutan kekuasan-kekuasaan dalam berbagai sisi. Tidak hanya diluar negeri kasus seperti ini pun sudah tak lazim di negara Indonesia. Di Indonesia sendiri, diskriminasi atas nama agama nyaris menjadi makanan sehari-hari. Di Israel, agama Yahudi dijadikan dasar sekaligus pembenaran untuk melakukan penindasan nyaris tanpa henti kepada Palestina. Di India, sebelum Natal 2014, sekitar 5000 keluarga diminta untuk memeluk kembali Hinduisme. Mereka yang tidak mau mengubah agama diminta untuk keluar dari India. Sebagai bangsa, India juga terus dikepung oleh konflik yang terkait dengan agama. Fenomenayang sama berulang kembali: agama digunakan untuk membenarkan tindak kekerasan, guna membela kepentingan ekonomi dan politik yang tersembunyi. Beberapa waktu lalu, kelompok Islam ekstrimis juga melakukan pembunuhan massal terhadap anak-anak di Pakistan. Lagi-lagi, agama digunakan untuk membenarkan kekerasan.
Pada dasarnya Agama dalam KBBI adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Dan yang pasti sifat dasar dari sebuah agama itu baik dan suci. Akan tetapi, penganut dari agama itulah yang mengubah sifat dasar tersebut. Ada pepatah Cina kuno yang mengatakan, ”Alat yang baik di tangan orang jahat akan menjadi alat yang jahat.” Sehingga, Sebaik apapun ajaran suatu agama, jika dianut oleh sekumpulan orang yang menderita dan tersesat, maka agama itu akan menjadi jahat yang menghasilkan penderitaan bagi banyak orang.
Lebih mirisnya lagi, dampak tindakan-tindakan ini membuat jutaan orang di belahan dunia menjaadi skeptis terhadap suatu agama. Contohnya terhadap agama islam, mereka dengan mudahnya menjustifikasi bahwa setiap orang yang beragama islam adalah pelaku kekerasan atau terorisme. Bahkan di negara tertentu banyak orang-orang yang anti-islam. Mengapa semua itu bisa terjadi? Mengapa agama yang sejatinya adalah sesuatu yang suci, yang katanya mengajarkan kebaikan universal dalam hubungan yang transendetal terus di pelintir dan di klaim sebagai sesuatu yang harusnya di takuti? Dalama buku tentang manusia karya Reza A. A Wattimena, ia berpendapat bahwasannya Akar dari segala kejahatan dan kekerasan adalah pikiran. Semua tindakan dimulai dari pikiran. Semua penilaian dan analisis mulai dari pikiran. Maka, kita pun harus masuk ke ranah pikiran, guna membongkar akar kekerasan.pengaruh lain yang menjadi latar belakang kekerasan menurutnya ialah Pola pikir dualistik yaitu selalu melihat dunia dalam dua kutub yang bertentangan, yakni benar-salah, baik-buruk, suci-tidak suci, beriman-kafir, serta dosa-tidak dosa. Dengan pembedaan ini, kita lalu terdorong selangkah lebih jauh untuk melihat orang lain sebagai musuh (yang berdosa, kafir, salah, dan buruk) yang harus dihancurkan.
Lantas apakah yang dapat menjadi obat untuk masalah ini? Jawaban saya mungkin cukup sederhana yaitu “hati”. Mengapa hati? Dalam sebuah hadist dikatan bahwa Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (H.R Al-Bukhari dan Muslim). Artinya, setiap manusia sebenarnya telah memiliki radar hati sebagai pembimbing. Suara hati adalah pembimbing paling sederhana terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat. Kekuatan kelembutan Hati akan mengalahkan kerasnya pikiran-pikiran yang buruk. Segala bentuk kekerasan dan kejahatan bisa dilenyapkan, jika kita melibatkan hati nurani kita sebagai pembimbing. Kita tidak lagi memiliki dorongan untuk mencap atau menyakiti apapun atau siapapun, karena kita semua, sejatinya, adalah satu dan sama. Bahkan, pada situasi yang paling ekstrem, kita lebih memilih untuk disakiti, daripada menyakiti orang lain.
#SALAMPERDAMAIAN
Oleh : WIWI AMALIA (KADER VISIONER)
IMM FEB Unismuh Makassar 
Periode 2018-2019

Read More

Rabu, 28 November 2018

PERLUNYA PENDEKATAN KRITIS DALAM DUNIA PELAJAR

November 28, 2018 0
Sistem pendidikan yang umum berlaku di dunia saat ini, terpola sedemikian rupa dalam suatu mekanisme dimana praktek penindasan berlangsung secara terus-menerus, atas nama "mendidik" dan "mencerdaskan". Institusi pendidikan yang semestinya mencerahkan dan memerdekakan manusia, justru menjadi sarana penindasan, dominasi dan hegemoni. Secara internal penindasan itu berlangsung terhadap murid oleh gurunya. Dan secara eksternal, penindasan itu berasal dari kekuasaan dan dunia industri, yang melakukan hegemoni terhadap sekolah, guru, peserta didik, dan watak kurikulum. Kadang-kadang institusi pendidikan tidak ubahnya penjara yang dijaga oleh sipir sipir yang kejam. Para sipir (yang diperankan oleh guru) memperlakukan murid-murid secara tidak manusiawi, tidak ubahnya tahanan.
Memang, sekolah bukan lah penjara untuk para penjahat, tetapi pada realitasnya sekolah-sekolah melakukan pengekangan dan pemenjaraan daya kreasi peserta didiknya sebagai manusia yang bebas-merdeka. Setiap peserta didik harus terkungkung pada suatu watak kurikulum yang berlaku dan itu belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh setiap peserta didik tersebut.
Sependek pengetahuan berdasarkan beberapa pengalaman, sistem pendidikan di sekolah kelihatannya sekedar mengejar nilai rapor (IPK), sedangkan keterampilan hidup dan realitas dunia yang sesungguhnya tidak diajarkan. Seorang anak  dilihat berdasarkan nilai ulangan yang diperolehnya, bukan pada kemampuannya secara keseluruhan. Tentu kita semua masih ingat, betapa ketika sekolah dulu, berbagai macam hal dalam mata pelajaran, sudah kita hapalkan, tetapi apakah sampai kini berbekas dibenak anda??? Tidak sedikit orang terutama saya sendiri yang sudah 12 tahun belajar matematika di sekolah, tetapi tetap saja tidak bisa bermatematika dengan baik,,,, kecuali bagi kawan2  yang memang masih berada di bidang itu. Itu karena kita lebih meggunakan pendekatan menghapal bukan memahami.
Hal ini kemudian menyebabkan, dunia pendidikan seolah-olah berada jauh diatas awan dan tidak berpijak di bumi (realitas yang sebenarnya). Itulah sebabnya, berbagai macam persoalan di tengah masyarakat yang menjadi realitas dunia yang sesungguhnya, tidak mampu diselesaikan oleh lulusan sekolah.  Materi-materi pelajaran berbicara tentang negeri kita yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, padahal kenyataannya kekayaan kita itu sudah jauh berkurang dan tidak melimpah lagi. Kita diceritakan tentang kemajuan tekhnologi yang semakin canggih, seakan-akan kita telah memilikinya, padahal hanya ada di negeri orang. Anak-anak di suatu daerah terpencil ditengah hutan, di tuntut oleh kurikulum nasional untuk belajar yang macam-macam, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan lingkungan sekitar mereka. Anak-anak di daerah pertanian atau di kawasan pesisir, disuguhkan dengan berbagai macam mata pelajaran yang berbau industri, dan tidak diajarkan oleh kurikulum nasional tentang teknik-teknik bercocok tanam atau melaut yang lebih baik. Akhirnya, lahirlah generasi anak-anak petani atau nelayan yang sudah malas bercocok tanam atau melaut. Lalu meninggalkan desa, mengadu nasib di kota atau negeri orang dan akhirnya (hanya) menjadi buruh murah di pabrik-pabrik, karena tidak memiliki keterampilan yang memadai. Hal inilah yang kemudian menyebabkan indeks pembangunan manusia disuatu negara semakin menurun dan tak mampu bersaing dengan sumber daya manusia dibeberapa negara hingga negara itu masih dianggap sebagai negara berkembang dan berbagai problematika dan kesenjangan sosial masih menggorogoti.
Secara sederhana, kita dapat mengklasifikasikan pendekatan kritis dalam dunia pendidikan. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan pembaharuan dan perubahan yang mendasar (revolusioner) di masyarakat, dengan melakukan penentangan terhadap ketidakadilan, keimpangan dan sisem yang menindas, melalui proses penyadaran kritis yang mencerahkan dan membebaskan. Peserta didik dipandang sebagai subjek yang aktif, yang mandiri dan mampu berbuat serta bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan realitas dunianya. Pola komunikasi antara guru dan murid berlangsung secara dua arah. Model pendidikan ini berusaha mendorong dan membantu masyarakat menemukan cara untuk menentukan kehidupannya sendiri, serta terbebas dari dominasi, hegemoni dan sistem yang tidak adil.

Oleh : KASMIA (KADER VISIONER)
IMM FEB Unismuh Makassar 
Periode 2018-2019


Read More

Selasa, 27 November 2018

PENGANTAR EPISTEMOLOGI ISLAM (SESI 1)

November 27, 2018 0

HUBUNGAN IDEOLOGI DAN PANDANGAN DUNIA
Ayatullah Murtadha Muthahari, dalam bukunya pengatar epistimologi islam, mengatakan bahwa yang menyebabkan pertikaian antara suku-suku dan bangsa-bangsa adalah karna sandaran atau dasar ideologinya yang berbeda-beda. Dan ia mengatakan lebih lanjut sandaran atau dasar dari ideologi ini adalah ‘padangan dunianya’. Yang dimaksud dengan padangan dunia adalah suatu kesimpulan yang di ambil dari cara berfikir manusia yang memiliki penafsiran dan pengkajian yang berada di alam, sejarah dan manusia itu sendiri. Dan semua itu berasal dari cara berfikir atau pengetahuan seseorang dalam mengkaji atau menafsirkan apa yang ada di alam, sejarah dan manusia.
Setiap kelompok maupun individu memiliki padangan dunia yang berbeda-beda. Satu kelompok mengatakan bahwa aktifitas manusia harus seperti ini dan yang lain mengatakan sebaliknya, jika cara berfikir seseorang saling berbeda otomatis padangan dunianya pun berbeda dan jika padangan dunia seseorang berbeda otomatis ideologi yang ia anut pun pastilah berbeda. Mengapa demikian? karna sandaran dan asas dari ideologi adalah padangan dunia dan cara berfikir manusianya masing-masing.
Karna itu semua di kembalikan dari apa yang mereka ketahui dan simpulkan, maka itulah yang akan menjadi tujuan mereka dalam menjalani kehidupanya. Setiap ideologi itu menentukan tujuan mereka menjalani kehidupanya dan didalam ideologi itu sendiri terdapat sederetan perintah dan larangan. Suatu ideologi itu akan mengajak pengikutnya pada suatu tujuan tertentu serta menunjukan jalan yang akan mengantarkan sampai pada tujuan tersebut. Ideologi akan menentukan bagaimana kita seharusnya, kita akan kemana seharusnya, harus bagaimana kita bersikap, seperti apa tingkah laku kita dalam menghadapi setiap permasalahan dan ia mengatakan, ‘harus demikian, kalian harus bepergangan pada yang demikian dan lain sebagainya.
Bagaimnapun bentuk yang kita pikirkan tentang padangan dunia (kesimpulan) maka akan berefek kepada ideologi kita dan ideologi kita pun akan mengikuti segala bentuk padangan dunia yang kita pikirkan tersebut. Ideologi merupakan buah hasil dari pemikiran kita tentang padangan dunia dan padangan dunia adalah hasil dari apa yang kita pikirkan atau yang kita ketahui tentang sekeliling kita. Sebagai perumpamaan seperti membangun rumah fondasi kita adalah pandangan dunia, jika padangan dunia kita tidak kokoh maka rumah yang akan di bangun akan mudah roboh dan hancur pula, bagaimanapun bagusnya. Sedangkan jika fondasi kita kuat dan kokoh maka rumah yang akan di buat akan tahan dan berdiri kokoh walaupun angin menerpanya, ideologi bagaikan atap dari rumah kita sendiri yang akan melindungi kita dari panas, hujan dan badai.
KEMUNGKINAN PENGETAHUAN
Pembicaran awal dari epistimologi yang telah ada sejak dahulu: mungkinkah manusia memiliki pengetahuna dan memahami alam? Jika mungkin apa syaratnya dan jika tidak mungkin kenapa, ada sebagian orang mengatakan bahwa manusia mungkin memiliki pengetahuan dan sebagianya lagi ragu atas kemungkinan manusia memiliki pengetahuan. Pada masa setelah Socrates, ada sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai “sophisme” dan yang paling terkenal di antara mereka adalah Pyrrho. Ia menyajikan sepuluh ketidak mungkinan manusia memiliki pengetahuan. Argument sederhana yang ia sampaikan, bila manusia hendak mengetahui sesuatu, apa alat dan istrumen yang hendak di gunakan? Kita tidak memiliki alat lebih dari dua, “indra dan rasio” dan ia bertanya kembali apakah indra  dan rasio tidak pernah melakukan kesalahan? Pasti semuanya akan menjawab bahwa indra dan rasio pasti sering melakukan kesalahan, contohnya saja saat ketika kayu yang di celupkan di dalam air akan kelihatan bengkok dan ketika diangkat kembali ternyata kayu itu lurus di sini membuktikan bahwa indra melakukan kesalahan dan tidak mungkin mendapatkan pengetahuan dengan mengunakan indra dan rasio. Indra dapat melakukan kesalah dan rasio pun dapat melakukan kesalahan sedangkan kita tidak memiliki alat pengetahuan selain indra dan rasio maka dari itu kita tidak bias menjadikan keduanya sebagai pengangan.
Jika Pyrrho mengatakan seperti itu berarti sebenarnya Pyrrho sudah sampai pada hakikat kebenaran karna mana mungkin Pyrrho mengatakan jika kayu yang lurus di masukan kedalam gelas berisi air akan kelihatan bengkok dan jika di keluarkan akan kelihatan lurus, secara tidak langsung Pyrrho mendapatkan satu pengetahuan. Saat anda mengatakan bahwa di suatu tempat rasio telah melakukan kekeliruan, hal itu sama dengan ungkapan: “saya mengetahui bahwa rasio telah melakukan suatu kekeliruan”, maka anda telah sampai pada hakikat.

Sumber : Buku Pengantar Epistemologi Islam (Murthadha Muthahari)

Oleh : NURUL AULIA (KADER VISIONER)
IMM FEB Unismuh Makassar 
Periode 2018-2019
Read More

Post Top Ad